Dalam sebuah hadis, haji disamakan dengan jihad, apalagi bagi perempuan, jihadnya perempuan adalah haji. Mencermati proses-proses dalam haji, memang dibutuhkan perjuangan dan kesabaran yang tinggi, terutama pada proses yang harus dilalui di ARMINA. ARMINA adalah Arafah, Muzdalifah dan Mina. Di sinilah puncak haji. Haji adalah Arafah, demikian sabda Rasulullah Saw. Ketiga rangkaian haji tersebut semuanya dilakukan di luar pemondokan/hotel pada tiga tempat tersebut. Meski tempatnya berbeda, namun suasananya hampir sama.
Di Arafah, meski telah disiapkan tenda dengan kapasitas yang cukup untuk menampung semua jamaah, namun tetap saja ada suasana saling berebutan tempat di dalam tenda. Suasana ini tak jarang memicu perdebatan-perdebatan yang tidak seharusnya terjadi dalam suasana ihram. Apalagi keberadaan di Arafah hanya sehari/semalam, dan seharusnya waktu yang ada dimanfaatkan untuk banyak berdoa atau berzikir.
Di Muzdalifah, jemaah harus beristirahat di atas tikar yang dibawa sendiri dan beratapkan langit, dalam suasana berdesak-desakan pula. Namun di sini relatif lebih singkat, hanya singgah sejenak, setelah lewat tengah malam jemaah diangkut secara bergantian menggunakan bis menuju Mina. Namun proses ini juga memerlukan kesabaran. Terlebih saat harus antre menunggu bis, kelompok jamaah terkadang harus berdiri lama, bahkan sampai berjam-jam, di dalam palang besi khusus,
Sedangkan di Mina, jemaah harus tinggal kurang lebih selama 3 malam/hari, tergantung mengambil nafar awal atau nafar tsani. Jadi agak lama dibanding di Arafah dan Muzdalifah. Yang menonjol di Mina, selain perebutan tempat dan saling berdesak-desakan di dalam tenda, antrean makan yang memanjang, menu makanan yang seadanya, yang paling banyak dikeluhkan jemaah adalah antrean di kamar mandi berikut air yang kadang macet. Di sini sesama jemaah terkadang saling serobot yang tentu saja diakhiri dengan adu mulut bahkan saling umpat.
Selain masalah kamar kecil, proses melempar jumrah juga memerlukan perjuangan tersendiri. Posisi jamarat yang harus dicapai dengan berjalan kaki, ditambah kondisi berdesak-desakan, membutuhkan persiapan fisik yang cukup. Malah dengar-dengar tahun ini ada jemaah reguler kita yang harus menempuh jarak sekitar 15 Km PP dari tenda ke jamarat. Tak heran jika ada yang sampai kakinya bengkak karena harus berjalan jauh. Kalau jemaah PLus biasanya jarak yang ditempuh agak mendingan. Rombongan kami misalnya cukup menempuh jarak sekitar 3 km untuk mencapai jamarat. Untuk mengurangi kondisi berdesak-desakan, disarankan agar memilih waktu melontar pada subuh hari, misalnya menjelang shalat subuh. Suasananya pasti agak sepi dibanding siang hari.
Seberat apapun proses-proses tersebut, semua harus dilalui dengan ikhlas dan penuh semangat. Dan tentu saja, selalu berdoa agar semuanya menjadi lancar. Setiap menghadapi kesulitan, disarankan istigfar sebanyak-banyaknya agar segera mendapatkan kemudahan dari Allah Swt.
Seberat apapun proses-proses tersebut, semua harus dilalui dengan ikhlas dan penuh semangat. Dan tentu saja, selalu berdoa agar semuanya menjadi lancar. Setiap menghadapi kesulitan, disarankan istigfar sebanyak-banyaknya agar segera mendapatkan kemudahan dari Allah Swt.
