Selasa, 01 Maret 2011

HAJI ADALAH PERJUANGAN

Dalam sebuah hadis, haji disamakan dengan jihad, apalagi bagi perempuan, jihadnya perempuan adalah haji. Mencermati proses-proses dalam haji, memang dibutuhkan perjuangan dan kesabaran yang tinggi, terutama pada proses yang harus dilalui di ARMINA. ARMINA adalah Arafah, Muzdalifah dan Mina. Di sinilah puncak haji. Haji adalah Arafah, demikian sabda Rasulullah Saw. Ketiga rangkaian haji tersebut semuanya dilakukan di luar pemondokan/hotel pada tiga tempat tersebut. Meski tempatnya berbeda, namun suasananya hampir sama.

Di Arafah, meski telah disiapkan tenda dengan kapasitas yang cukup untuk menampung semua jamaah, namun tetap saja ada suasana saling berebutan tempat di dalam tenda. Suasana ini tak jarang memicu perdebatan-perdebatan yang tidak seharusnya terjadi dalam suasana ihram. Apalagi keberadaan di Arafah hanya sehari/semalam, dan seharusnya waktu yang ada dimanfaatkan untuk banyak berdoa atau berzikir.

Di Muzdalifah, jemaah harus beristirahat di atas tikar yang dibawa sendiri dan beratapkan langit, dalam suasana berdesak-desakan pula. Namun di sini relatif lebih singkat, hanya singgah sejenak, setelah lewat tengah malam jemaah diangkut secara bergantian menggunakan bis menuju Mina. Namun proses ini juga memerlukan kesabaran. Terlebih saat harus antre menunggu bis, kelompok jamaah terkadang harus berdiri lama, bahkan sampai berjam-jam, di dalam palang besi khusus,

Sedangkan di Mina, jemaah harus tinggal kurang lebih selama 3 malam/hari, tergantung mengambil nafar awal atau nafar tsani. Jadi agak lama dibanding di Arafah dan Muzdalifah. Yang menonjol di Mina, selain perebutan tempat dan saling berdesak-desakan di dalam tenda, antrean makan yang memanjang, menu makanan yang seadanya, yang paling banyak dikeluhkan jemaah adalah antrean di kamar mandi berikut air yang kadang macet. Di sini sesama jemaah terkadang saling serobot yang tentu saja diakhiri dengan adu mulut bahkan saling umpat.

Selain masalah kamar kecil, proses melempar jumrah juga memerlukan perjuangan tersendiri. Posisi jamarat yang harus dicapai dengan berjalan kaki, ditambah kondisi berdesak-desakan, membutuhkan persiapan fisik yang cukup. Malah dengar-dengar tahun ini ada jemaah reguler kita yang harus menempuh jarak sekitar 15 Km PP dari tenda ke jamarat. Tak heran jika ada yang sampai kakinya bengkak karena harus berjalan jauh. Kalau jemaah PLus biasanya jarak yang ditempuh agak mendingan. Rombongan kami misalnya cukup menempuh jarak sekitar 3 km untuk mencapai jamarat. Untuk mengurangi kondisi berdesak-desakan, disarankan agar memilih waktu melontar pada subuh hari, misalnya menjelang shalat subuh. Suasananya pasti agak sepi dibanding siang hari.

Seberat apapun proses-proses tersebut, semua harus dilalui dengan ikhlas dan penuh semangat. Dan tentu saja, selalu berdoa agar semuanya menjadi lancar. Setiap menghadapi kesulitan, disarankan istigfar sebanyak-banyaknya agar segera mendapatkan kemudahan dari Allah Swt.

Senin, 28 Februari 2011

Memenuhi Panggilan Suci

Alhamdulillah pada musim haji 1413 H /2010 kemarin, saya dan suami berkesempatan memenuhi panggilan Allah Swt tuk berkunjung ke Baitullah guna melaksanakan rukun Islam yang kelima. Sebagai wujud rasa syukur kami, saya persembahkan catatan ini sebagai ole-ole buat bapak-bapak/ibu-ibu, kawan-kawan yang belum berkesempatan ke sana.

HAJI ADALAH PERJALANAN SUCI

Berhaji merupakan kerinduan setiap umat Islam. Namun karena terkait dengan berbagai faktor, tidak semua berkesempatan menunaikannya. Sering kita dengar, hanya orang yg dipanggil saja yang bisa ke sana. Buktinya terkadang ada yang mampu dari segi finansial maupun fisik, namun belum berkesempatan pergi haji. Sebaliknya ada juga yang tampak kurang mampu tapi justru lebih dulu memenuhi panggilan-Nya. Berdasarkan pengalaman saya, bila kita telah berniat dan bertekad, insya Allah akan dibukakan jalannya menuju ke Baitullah.

Pertama saya berniat haji akan menempuh jalur BPIH reguler. Saya pun mempersiapkan berbagai persyaratan administratif tuk pendaftaran. Tapi sehari sebelum mendaftar di depag, saya dapat info dari teman yang kerja di depag bahwa kalau mendaftar sekarang saya harus menunggu paling cepat tujuh tahun baru berangkat. Saya pikir tak mengapa, sambil menunggu giliran haji saya bisa umrah dulu. Tapi entah mengapa kerinduan tuk berhaji tak pernah pupus di benak, bahkan semakin menguat dari hari ke hari. Saya sampai susah tidur karena selalu dihantui kerinduan menunaikan haji. Saya curhat ke ibu saya, dia bilang jangan-jangan memang panggilanmu sudah datang. Saya pun mencoba konsul sama suami, teman-teman dan keluarga, akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya dan suami memutuskan memilih jalur BPIH Plus agar bisa berangkat secepatnya. Kebetulan juga tabungan kami sudah mencukupi tuk setoran awal. Selisih setoran antara ONH jalur reguler dan plus memang tidak sedikit, tapi Alhamdulillah setelah memantapkan hati memilih jalur tersebut, pintu rezeki kian terbuka dan akhirnya bisa mencukupi untuk berangkat haji dengan BPIH Plus.

Setelah melewati berbagai fase seperti pendaftaran, pemeriksaan kesehatan/vaksin, manasik dll, akhirnya pada tangal 7 Nopember 2010, aku dan suami berangkat dari Bandara Hasanuddin makassar melalui transit di bandara Cengkareng dan selanjutnya terbang menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah Arab Saudi. Di sinilah perjalanan haji kami dimulai.

Selama di pesawat yang memakan waktu sekitar delapan atau sembilan jam, saya sempat cerita-cerita dengan teman-teman seperjalanan. Dari situ saya tahu bahwa ternyata banyak teman yang sedianya berangkat dengan kami tapi batal berangkat karena visanya tidak keluar. Ada yang sudah masuk karantina pra keberangkatan, tapi pas sampai di bandara dinyatakan tidak bisa berangkat. Ada juga yang sudah sampai di Jakarta baru diberitahu kalau ia tidak jadi berangkat. Yang menyedihkan banyak pasangan suami istri, suaminya berangkat tapi istrinya tidak. Ada juga istrinya yang berangkat dan suaminya tidak. Terpaksa si suami tetap di Jakarta dan memilih menetap di hotel sambil menunggu istri pulang karena tidak enak sama kolega dan keluarga di kampung karena sudah terlanjur berpamitan, bahkan sudah menggelar selamatan. Saya juga sempat mendengar langsung dari suami yang istrinya tidak jadi berangkat bahwa istrinya telah tiga tahun mempersiapkan/mendaftar tuk berangkat haji tapi ada saja kendalanya sehingga belum bisa berangkat sampai sekarang, sementara ia sendiri baru tahun ini berencana dan Alhamdulillah bisa langsung berangkat.

Setelah tiba di pemondokan di kota suci Mekkah,dalam kesempatan bincang-bincang dengan pihak travel saya berusaha konfirmasi kebenaran berita tersebut dan memang benar banyak jamaah travel tersebut yang batal berangkat. Saya juga mendapat info dari pihak travel bahwa yang batal berangkat adalah yang melalui jalur Non BPIH, jalur non depag karena tidak kebagian kuota. Jalur ini biasanya diadakan travel melalui kerja sama langsung dengan muassasah di Arab Saudi dalam rangka mengcover mereka yang tidak kebagian kuota BPIH Plus tapi memaksakan diri berangkat tahun itu juga. Sebenarnya kami dulu sempat ditawari pihak travel pada awalnya tuk lewat jalur itu saja ketika kami belum tercover dalam kuota. Namun kami menolak karena kami menilainya illegal, kalau ada apa-apa pasti pemerintah Indonesia tidak mau tanggung jawab karena nama kita tidak terdaftar sebagai jamaah haji Indonesia. Saat itu kami memilih lebih baik menunda sampai tahun depan daripada menempuh jalur yang beresiko. Namun Alhamdulillah beberapa saat kemudian ada tambahan kuota sehingga kami bisa berangkat tahun itu juga melalui jalur BPIH.

Beradasarkan cerita-cerita tersebut, saya berkesimpulan bahwa haji adalah perjalanan suci, berbeda dengan perjalanan biasa yang semua orang bisa saja melakukannya. Benar, hanya orang-orang yang dipanggilNya yang bisa ke sana. Karena haji adalah perjalanan suci, maka semestinya harus dilalui dengan serangkaian niat dan upaya-upaya yang benar-benar suci (legal).

Olehnya itu, sarankan kepada teman-teman yang belum berangkat dan berniat akan berangkat haji agar mempersiapkan diri dari sekarang. Perbanyak doa dan luruskan niat agar rencana kita betul-betul diwujudkan Allah Swt, insya Allah. Dan untuk keamanan dan kenyamanan saya sarankan agar memilih jalur resmi saja (BPIH) dan jangan memaksakan diri berangkat kalau memang belum saatnya. Yakinlah, panggilan suci itu akan datang jika saatnya telah tiba...


HAJI DAN PERBEKALAN

Mengingat haji adalah perjalanan yang cukup jauh dan lama, seyogyanya diperlukan persiapan atau bekal. Apalagi haji sebagai perjalanan ibadah, maka tidak cukup hanya bekal materi saja, tapi yang terpenting juga adalah bekal tentang pengetahuan ibadah, khususnya ibadah haji itu sendiri serta ibadah-ibadah lainnya yang terkait.

Berdasarkan pengamatan saya, banyak yang pergi haji memiliki bekal materi yang memadai tetapi sangat minim bekal pengetahuan agamanya. Dari obrolan-obrolan atau interaksi langsung dengan mereka selama prosesi haji, saya bisa tahu kalau pengetahuan ibadah mereka sangat kurang. Masalah ihram misalnya, masih banyak yang belum mengerti apa itu ihram berikut larangan-larangannya. Sehingga ketika tiba di pemondokan ada yang langsung mengganti pakaian ihram dengan daster dan membiarkan auratnya terbuka padahal masih dalam suasana ihram. Harusnya mereka tetap berpakaian ihram sampai selesai proses tahallul. Parahnya lagi, ada yang tidak tau niat ihram untuk umrah dan haji padahal ini adalah masalah prinsip yang tidak boleh diabaikan. Masalah syarat dan wajib haji juga perlu diperjelas karena masih banyak yang tidak bisa membedakan keduanya. Malah masih ada yang mengaitkan antara shalat arbain di Madinah dengan rukun haji, menganggap hajinya tidak sah kalau arbainnya tidak terpenuhi. Hal-hal lain yang perlu diperjelas antara lain tata cara shalat jama' qashar, tayammum, dll.

Khusus bagi orang Bugis, ada ritual tersendiri dalam melaksanakan haji yang dikenal dengan istilah "mappatoppo" yaitu semacam peresmian haji melalui seremoni pemasangan songkok atau kerudung oleh Syekh atau ulama setaraf syekh setelah proses haji selesai. Semacam peresmian untuk menyandang gelar haji atau hajjah. Proses ini sebenarnya murni tradisi, hanya berlaku di kalangan orang Bugis dan tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat. Tapi anehnya sebagian orang Bugis khususnya kaum awam memposisikannya sebagai rukun, hajinya dinilai belum sah sebelum melewati ritual tersebut. Hal-hal semacam inilah yang harus diperjelas bagi jemaah agar tidak banyak terjadi kesalahpahaman selama pelaksanaan ibadah haji.

Jelaslah bahwa masalah manasik perlu ditingkatkan lagi. Jemaah yang akan berangkat harus benar-benar empersiapkan diri dengan berbagai pemahaman. Bukan hanya masalah ibadah, termasuk juga masalah-masalah teknis lainnya seperti penggunaan toilet di pesawat. Pengalaman saya, beberapa kali pramugari harus memperingatkan jemaah agar benar-benar memperhatikan penggunaan toilet di pesawat akibat banyaknya kesalahan yang dilakukan jamaah. Ketika itu banyak yang membasahi lantai toilet pesawat yang sangat beresiko terhadap keselamatan penerbangan.

Bagi jamaah yang ingin membawa bekal berupa makanan jadi yang bisa tahan lama juga tak ada salahnya, terutama bagi jamaah reguler. Sedangkan bagi jemaah plus, meski urusan makan selama di sana ditanggung pihak penyelenggara dengan mempersiapkan catering masakan Indonesia, tapi tetap saja ada jamaah yang kurang sreg dengan makanan yang disajikan. Itu mungkin terkait dengan kebiasaan makan jamaah yang bersangkutan. Misalnya jamaah dari Makassar terkadang merasa kurang sesuai dengan menu yang ada karena lebih banyak disajikan masakan Jawa yang serba manis. Olehnya itu, bekal berupa abon, rendang, teri goreng, sambal yang bisa tahan lama, cukup bermanfaat bagi jamaah selama haji. Apalagi di Mina dan di Arafah, menu yang ada sangat seadanya.

Simpelnya, di saat memutuskan akan berangkat haji, persiapkan perbekalan dari sekarang. Ya, mulai dari sekarang karena terlalu banyak yang harus dipersiapkan. terutama masalah pengetahuan tentang haji itu sendiri. Karena niat kita ke sana kan untuk ibadah tapi kalau kita tidak mengerti ibadah yang akan kita lakukan termasuk tata caranya, maka sia-sialah kita mengorbankan waktu, tenaga dan ongkos yang banyak sementara target yang dikehendaki tidak tercapai.

Untuk masalah pakaian, saya sarankan bertanya kepada orang yang telah berangkat sebelumnya, atau memperbanyak membaca buku-buku, mendownload informasi di internet sebelum memutuskan apa-apa saja yang harus dibawa ke sana. Namun yang paling pokok tentu saja adalah pakaian ibadah seperti kerudung/mukena, abaya, celana panjang dan kaos kaki khusus bagi perempuan. Pilihlah yang berbahan nyaman seperti katun atau kaus yang bisa menyerap keringat. Tak kalah pentingnya adalah sepatu/sandal yang nyaman untuk jalan karena banyak kegitan haji yang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tak ketinggalan pula tas yang agak besar yang bisa menampung perlengkapan saat di luar pemondokan seperti saat ke masjid atau berbelanja seperti handuk, payung, sajadah dll.

Insya Allah, bekal yang memadai akan menjadikan ibadah haji kita lebih lancar, nyaman dan sempurna. Di atas semua itu, bekal yang paling utama adalah iman dan takwa, sebagaimana disebutkan dalam ayat suci Al-Qur'an: "Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa..."


HAJI ADALAH IBADAH FISIK

Setelah tiba di tanah suci Mekkah dan melewati serangkaian kegiatan haji, saya pun berkesimpulan bahwa benar kata orang "haji adalah ibadah fisik". Fase-fase yang harus dilalui mulai dari persiapan keberangkatan hingga rangkaian ibadah di tanah suci, semua menguras fisik dan emosi. Olehnya itu, bagi orang tua yang sudah berumur, idealnya didampingi keluarga seperti anak atau cucu.

Pengalaman saya, tidak banyak yang mau memberi perhatian khusus pada jamaah sepuh karena masing-masing sibuk dengan diri dan kegiatan masing-masing. Apalagi di sana kita seolah berkejaran dnegan waktu. Waktu yang ada dimanfaatkan seefisien mungkin agar bisa melaksanakan ibadah sebnayak-banyaknya, misalnya harus mengejar waktu ke masjid agar bisa shalat berjamaah dan mendapaatkan tempat yang nyaman di dalam masjid. Jadi diperlukan gerak cepat, terlambat sedikit, hanya mendapatkan pelataran masjid, malah kalau lagi padat-padatnya, kita bisa-bisa kebagian tempat shalat di jalanan karena pelataran juga sudah penuh. Untuk itu, terkadang tidak tersisa waktu untuk mengurus sesama jemaah yang sudah uzur yang untuk bergerak memerlukan bantuan orang lain seperti harus dipapah atau didorong.

Keberadaan pengurus/pembimbing tidak bisa juga diharapkan sepenuhnya. Mereka harus mengurus jamaah yang jumlahnya tidak sedikit, tidak mungkin bisa fokus pada satu orang saja. Lagian mustahil juga akan sampai urusan sekecil-kecilnya mau diuruskan sama mereka seperti masalah pakaian, saat di dalam kamar dll. Jadi memang idealnya bagi jemaah sepuh ada keluarga terdekat yang mendampingi setiap saat agar proses ibadahnya bisa berjalan lancar dan sesuai harapan.

Proses-proses seperti tawaf, sa'i, melontar jamrah, mabit di Muzdalifah dan Mina, semua memerlukan fisik yang prima. Olehnya itu, untuk menjaga stamina disarankan agar memperhatikan pola makan, unsur gizi harus mencukupi terutama sayur dan buah, banyak minum air putih dan istirahat secukupnya. Kalau perlu bisa juga mengkonsumsi suplemen seperti vitamin untuk menjaga vitalitas. Kegiatan yang padat dan faktor cuaca terkadang mempengaruhi kondisi fisik. Di Madinah misalnya jika bertepatan dengan musim dingin akan sangat berpotensi membuat batuk atau pilek. Malah ada yang berkelakar, wajib haji yang terakhir adalah batuk karena nyaris tidak ada jamaah yang tidak terkena batuk selama haji. Bahkan terkadang batuknya sampai dibawa pulang ke tanah air seperti saya dan suami.

Jelasnya, fisik harus benar-benar dipersiapkan dan dijaga agar semua kegiatan haji termasuk sunnat-sunnatnya bisa dilaksanakan secara lancar. Disarankan juga berangkat haji pada saat usia masih muda kalau memang sudah memenuhi syarat-syarat lainnya seperti kecukupan finansial. Dengan begitu, prosesi haji bisa lebih mudah dijalani bahkan bisa lebih dinikmati. Meski memang terkadang umur tidak mutlak berpengaruh pada kemampuan fisik seseorang karena terkadang ada yang sudah tua justru lebih enerjik dari yang muda. Di rombongan kami misalnya, ada beberapa yang sudah tua tapi ternyata lebih bersemangat dari yang muda. Kalau berjalan mereka lebih cepat dan terlihat tetap segar tanpa mengeluh sedikitpun. Malah saya pernah ketemu dan duduk berdampingan di Masjidil Haram seorang jamaah sepuh dari Banjarmasin, dia menceritakan pengalamannya mengejar kesempatan shalat berjamaah di masjid setiap waktu meski harus menempuh jarak yang sangat jauh dari pemondokan. Malah dia telah berkesempatan mencium hajar aswad, sementara yang muda saja banyak yang tidak bisa sampai tembus ke arah hajar aswad saking padatnya. Masya Allah...!!!

Kamis, 21 Oktober 2010

Rindu Baitullah

Sama seperti muslim lainnya, saya menyimpan kerinduan yang sama, rindu untuk bersimpuh dan bersujud di baitullah, rumah suci yang menjadi tujuan umat muslim sedunia. Sekarang kerinduan itu semakin mendalam dan menyatu dengan cemas, benarkah kesempatan berharga itu akan segera tiba? Benarkah Allah SWT telah memanggilku? Sudah layakkah aku yang penoh noda ini datang bersujud di rumah suci itu?
Aku hanya bisa berdoa semoga memang panggilan untukku benar2 telah tiba dan Insya Allah aku akan datang membawa diriku yang hina dan kotor ini untuk bersimpuh di hadapan Sang Maha Pengampun dan Maha Pemurah serta membasuhnya dengan air kesegaran dari telaga kasih sayang-Nya agar aku bisa kembali sebagai muslim yang sempurna dengan kematangan spiritual yang cukup sebagai bekal menghadapi hari esok yang lebih baik lagi.
Tuhanku.....Semua kupasrahkan padamu. Semoga Engkau berkenan mewujudkan rencana hamba-Mu. Amin...!!!

Senin, 27 Juli 2009

Wajah-Wajah Perempuan

Hari ini terasa begitu melelahkan. Pagi-pagi sekali meninggalkan rumah menuju kampus tuk ngikutin seminar proposal teman, jadwalnya jam 8.15 mulai. Namun pas di jalan kejebak macet. Rasanya sebel banget, udah dibelain pagi-pagi, sarapan aja pake buru-buru, mana belum sempat maen ama si kecil karena masih terlelap-mungkin dia lagi mimpi dalam dekapan hangat bundanya-dan tidak tahu kalau bundanya udah berangkat. Ternyata penyebab macet gara-gara ada tentara latihan di jalan. Jumlahnya cukup banyak sehingga macetnya juga agak lama. Mereka lari-lari memanggul senjata sambil bernyanyi penuh semangat. Meski mereka mayoritas laki-laki, namun ada juga beberapa orang perempuan, berusaha menyesuaikan langkah dan irama lagu teman-temannya yang laki-laki dengan penuh percaya diri, seolah tak merasa kalau mereka adalah minoritas dan secara fisik mereka ada perbedaan dengan laki-laki.
Nyampe kampus, ternyata seminarnya belum dimulai karena masih ada promotor yang belum datang. Pesertanya udah lumayan banyak, namun hanya saya yang perempuan, selainnya semua laki-laki. Padahal, teman yang mau seminar itu perempuan. Yah mungkin perempuan-perempuan yang lain masih sibuk di rumah menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya. Memang itulah resiko seorang perempuan yang juga beraktivitas di luar rumah, harus beres di rumah dulu baru ninggalkan rumah tuk melanjutkan aktivitas di luar. So, repot terus, mikir terus dan capek terus.
Jam 9.00, seminarnya baru mulai. Teman saya dengan penuh percaya diri mempresentasikan proposal disertasinya yang cukup bagus itu. Ada decak kagum menyembul dari dalam hatiku, bahkan sebentuk rasa bangga sebagai seorang perempuan. Ternyata perempuan juga mampu seperti laki-laki bahkan bisa lebih dari laki-laki, meski memiliki waktu yang relatif lebih terbatas dari laki-laki karena banyak tersita untuk mengurus keluarga. Buktinya, teman saya itu udah hampir meraih gelar doktor, jenjang akademik tertinggi. Saya ingat, beberapa hari yang lalu, teman saya yang tengah presentasi tersebut cerita ke saya kalau di rumah dia tidak punya pembantu, Segala urusan rumah tangga harus diselesaikan sendiri. Padahal, mengurus anak sambil bekerja bahkan sambil study bukan urusan main-main. Saya bisa bayangkan bagaimana repotnya. Saya saja yang notabene ada yang bantu-bantu di rumah masih merasa kerepotan. Rasanya waktu yang 24 jam tidak cukup untuk melakukan semua itu. Makanya sampai sekarang proposalku tidak kelar-kelar juga, he he. Bagaimana coba, punya suami juga super sibuk, malah jarang di rumah, kerjaannya terbang-terbang mlulu, so otomatis anak-anak lebih banyak dekat-dekat ke ibunya karena mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Jadi kalau udah di rumah rasanya nggak bisa ngapa-ngapain lagi karena anak-anak pengennya nempel terus. Maunya semuanya ibunya yang harus melakukan apa-apa untuk dia. Minta digendonglah, disuapinlah, diantar ke kamar kecil, dan lain-lain. Pokoknya apa-apa harus ibunya. Padahal, sebagai tenaga pengajar dan sebagai seorang mahasiswa, kita dituntut untuk terus memperdalam pengetahuan dan mengembangkan wawasan. Harus banyak-banyak baca, nulis, buka internet dan lain-lain. Tapi gimana coba mau nyisihkan waktu, terkadang udah nyalain laptop terus dimatiin lagi karena anaknya berantem atau ikutan pencet-pencet laptop, padahal tadinya ada ide menarik tapi trus blame gara-gara harus ngasi diam dulu anak-anak yang nangis . Belum lagi harus ngurus tetek benget urusan rumah tangga, arisan, jenguk keluarga yang sakit, hadiri undangan teman and sodara yang kawinan, aqiqahan, dll. Untuk istirahat aja susah banget. Bahkan kadang merasa sedih sendiri karena terkadang pas pulang rumah dan mau tiduran sebentar biasanya sambil diantar celoteh gemes anak-anak. Sedih banget melihat raut kecewa anak-anak yang masih pengen cerita banyak ama bundanya tapi si bunda sepertinya tidak kuat nahan lelah dan ngantuk. Kalau udah gitu anaknya pasti ngambek. Yah, apa boleh buat...

Seminarnya belum selesai tapi aku udah buru-buru keluar ruangan seminar karena jadwal kursus nyetir udah hampir masuk, sekitar 30 menit lagi. Sementara dalam perjalanan by angkot butuh waktu 30 menit untuk tiba di tempat kursus. Dulu waktu mau daftar kursus, suami sempat meragukan, tapi aku tetap ngotot. Aku yakin kalau usaha dan semangat pasti suatu saat bisa nyetir sendiri. Prinsip aku, tidak ada yang tidak bisa kalau kita yakin dan mau usaha untuk mewujudkan keyakinan kita, iyya khan? Prinsip itu yang selalu kucoba pertahankan setiap semangatku tiba-tiba kendor karena merasa betapa susahnya belajar nyetir di tengah kesemrawutan jalan -jalan kota makassar yang udah mulai diwarnai kemacetan. Namun setiap melihat mobil-mobil lain yang dikemudikan perempuan juga, malah ada yang udah berumur tapi terlihat tetap energik mengendalikan stir, semangatku akan bangkit lagi. Yang tua-tua aja bisa, masa aku yang masih muda gini nggak bisa, he he... kegeeran banget aku ini.
Selesai mengikuti kursus menyetir
aku langsung pulang ke rumah by angkot. Maklum, belum lancar nyetir jadi belum berani bawa mobil sendiri, takut nabrak pete-pete seperti kasusnya suami beberapa waktu lalu atau masuk got seperti kasusnya tetanggaku yang juga perempuan. Suasananya udah bisa dibayangin, sesak, gerah, aroma nggak sedap, mana ada yang ngerokok, teleponan seenaknya, pokoknya so nggak nyaman gitu lah. Tapi jujur, selama ini ada juga sisi-sisi menarik melakukan perjalanan pake angkot. Dalam angkot kita bisa bertemu macam-macam orang dengan berbagai cerita dan karakter. Bahkan sebagai seorang pemerhati perempuan, banyak wajah-wajah perempuan yang dapat ditemui dengan cerita-cerita mereka serta kisah-kisah tentang perempuan yang terekam saat di angkot. Mulai masalah fashion terkini, baju, sepatu dan tas yang lagi ngetrend, alat-alat rumah tangga dari produk-produk mutakhir, dan lain-lain. Ada juga yang suaminya selingkuh, yang jadi simpanan, yang selalu ribut ama ipar or mertua, sikap egois suami sampai yang dapat KDRT. Ada juga persaingan antar ibu-ibu kompleks, juga repotnya nangani kenakalan anak-anak dan yang terbanyak adalah bagaimana susahnya bagi waktu untuk urus keluarga khususnya bagi perempuan yang bekerja. Kalau udah dengar kisah mereka, aku terkadang senyum-senyum sendiri, sebagai seorang perempuan, dalam hati aku memaklumi apa yang mereka ungkapkan.
Yah, memang teramat susah menjalankan figur seorang perempuan yang utuh sebagaimana harapan orang-orang di sekeliling kita. Sebagai seorang istri, kita dituntut untuk memahami dan mewujudkan keinginan-keinginan suami. Sebagai seorang suami, harus bisa mencurahkan waktu untuk memberikan perhatian-perhatian dan pendidikan yang baik bagi mereka, dan sebagai orang yang bekerja kita harus cerdas, kreatif dan inovatif melahirkan gagasan-gagasan untuk meningkatkan kierja dan kredibilitas instansi tempat kita bernaung. Ironisnya, suami terkadang tak memahami bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung seorang istri. dan bagaimana ribetnya aktivitas istri dari terbit fajar sampai terbenamnya mata suami dan anak-anak. Buktinya, seorang suami yang sukses meniti karier dan dianugerahi keluarga yang harmonis, orang akan mengacungkan jempol kepadanya. Ia akan menjadi figur yang merebut simpati dari berbagai kalangan dan terkadang dengan kebanggaannya sendiri ia mengakui bahwa betapa ia telah bersusah payah untuk merebut semua itu tanpa menyadari bagaimana peran istrinya juga tidak kecil di balik cerita kesuksesannya.
So, yang terpenting bagi perempuan adalah bagaimana kita bisa ikhlas menjalankan semua peran kita, agar apapun yang kita lakukan bisa berfaidah dan bernilai ibadah. Yakin, tidak ada upaya yang sia-sia. Apapun yang kita lakukan, selama itu adalah pekerjaan yang diridhai oleh Allah, maka pasti mendatangkan manfaat buat kita dan orang-orang yang kita cintai, kalau bukan sekarang, mungkin suatu saat di masa-masa yang akan datang. So, teruslah berjuang, berbuat yang terbaik untuk diri, keluarga dan lingkungan di manapun kita berada. *

Rabu, 22 Juli 2009

Menjadi Perempuan

Hal pertama yang menyentak kesadaran seorang yang ditakdirkan lahir sebagai perempuan adalah betapa ia dituntut untuk menjaga citra keperempuanannya, dituntut untuk serba hati-hati dalam bersikap maupun bertutur yang sama sekali tidak begitu dibebankan pada makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi semua itu mesti dijaga karena ia adalah seorang perempuan. Di sini sudah jelas tampak adanya perbedaan. Yah. perempuan dan laki-laki memang berbeda, tapi bukan berarti harus dibeda-bedakan.
Menjadi perempuan tidak mudah. Maksudnya, menjalankan peran keperempuanan yang diinginkan lingkungan kita butuh kecerdasan dan kearifan tersendiri. Tapi harus disadari, kita dituntut untuk memahami apa yang menjadi keinginan orang-orang di sekeliling kita untuk membahasakan apa yang menjadi keinginan kita kepada mereka. Ingat, perjuangan melalui cara-cara damai biasanya lebih jitu daripada sebuah perlawanan frontal, terlebih dalam suasana lingkungan ketimuran kita yang masih menjunjung makna budaya,kultur, tata krama, dll yang semacamnya. Lagian, tujuan akhir kita kan bukan bagaimana berhadapan dengan laki-laki, apalagi sampai adu jotos, iyya khan? Perjuangan kita adalah bagaimana melawan ketidakadilan dan sistem yang telah merebut hak-hak yang harusnya dinikmati oleh perempuan sebagai seorang manusia seperti laki-laki. Dan yang terpenting bagaimana mengatakan kepada dunia bahwa dunia ini akan menjadi semakin indah dan kehidupan akan berjalan kian tenteram jika laki-laki dan perempuan bisa saling memahami, saling mengisi,saling share, saling...dan lain-lain, tanpa ada satupihakpun yang merasa superior atau inferior, merasa sebagai makhluk utama dan yang lain harus termarjinalkan, melainkan masing-masing punya hak untuk melakukan apa yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya. Iyya khan?

Senin, 01 Juni 2009