Rabu, 22 Juli 2009

Menjadi Perempuan

Hal pertama yang menyentak kesadaran seorang yang ditakdirkan lahir sebagai perempuan adalah betapa ia dituntut untuk menjaga citra keperempuanannya, dituntut untuk serba hati-hati dalam bersikap maupun bertutur yang sama sekali tidak begitu dibebankan pada makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Jadi semua itu mesti dijaga karena ia adalah seorang perempuan. Di sini sudah jelas tampak adanya perbedaan. Yah. perempuan dan laki-laki memang berbeda, tapi bukan berarti harus dibeda-bedakan.
Menjadi perempuan tidak mudah. Maksudnya, menjalankan peran keperempuanan yang diinginkan lingkungan kita butuh kecerdasan dan kearifan tersendiri. Tapi harus disadari, kita dituntut untuk memahami apa yang menjadi keinginan orang-orang di sekeliling kita untuk membahasakan apa yang menjadi keinginan kita kepada mereka. Ingat, perjuangan melalui cara-cara damai biasanya lebih jitu daripada sebuah perlawanan frontal, terlebih dalam suasana lingkungan ketimuran kita yang masih menjunjung makna budaya,kultur, tata krama, dll yang semacamnya. Lagian, tujuan akhir kita kan bukan bagaimana berhadapan dengan laki-laki, apalagi sampai adu jotos, iyya khan? Perjuangan kita adalah bagaimana melawan ketidakadilan dan sistem yang telah merebut hak-hak yang harusnya dinikmati oleh perempuan sebagai seorang manusia seperti laki-laki. Dan yang terpenting bagaimana mengatakan kepada dunia bahwa dunia ini akan menjadi semakin indah dan kehidupan akan berjalan kian tenteram jika laki-laki dan perempuan bisa saling memahami, saling mengisi,saling share, saling...dan lain-lain, tanpa ada satupihakpun yang merasa superior atau inferior, merasa sebagai makhluk utama dan yang lain harus termarjinalkan, melainkan masing-masing punya hak untuk melakukan apa yang terbaik bagi diri dan masyarakatnya. Iyya khan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar