Hari ini terasa begitu melelahkan. Pagi-pagi sekali meninggalkan rumah menuju kampus tuk ngikutin seminar proposal teman, jadwalnya jam 8.15 mulai. Namun pas di jalan kejebak macet. Rasanya sebel banget, udah dibelain pagi-pagi, sarapan aja pake buru-buru, mana belum sempat maen ama si kecil karena masih terlelap-mungkin dia lagi mimpi dalam dekapan hangat bundanya-dan tidak tahu kalau bundanya udah berangkat. Ternyata penyebab macet gara-gara ada tentara latihan di jalan. Jumlahnya cukup banyak sehingga macetnya juga agak lama. Mereka lari-lari memanggul senjata sambil bernyanyi penuh semangat. Meski mereka mayoritas laki-laki, namun ada juga beberapa orang perempuan, berusaha menyesuaikan langkah dan irama lagu teman-temannya yang laki-laki dengan penuh percaya diri, seolah tak merasa kalau mereka adalah minoritas dan secara fisik mereka ada perbedaan dengan laki-laki.
Nyampe kampus, ternyata seminarnya belum dimulai karena masih ada promotor yang belum datang. Pesertanya udah lumayan banyak, namun hanya saya yang perempuan, selainnya semua laki-laki. Padahal, teman yang mau seminar itu perempuan. Yah mungkin perempuan-perempuan yang lain masih sibuk di rumah menyiapkan segala sesuatunya untuk keluarganya. Memang itulah resiko seorang perempuan yang juga beraktivitas di luar rumah, harus beres di rumah dulu baru ninggalkan rumah tuk melanjutkan aktivitas di luar. So, repot terus, mikir terus dan capek terus.Jam 9.00, seminarnya baru mulai. Teman saya dengan penuh percaya diri mempresentasikan proposal disertasinya yang cukup bagus itu. Ada decak kagum menyembul dari dalam hatiku, bahkan sebentuk rasa bangga sebagai seorang perempuan. Ternyata perempuan juga mampu seperti laki-laki bahkan bisa lebih dari laki-laki, meski memiliki waktu yang relatif lebih terbatas dari laki-laki karena banyak tersita untuk mengurus keluarga. Buktinya, teman saya itu udah hampir meraih gelar doktor, jenjang akademik tertinggi. Saya ingat, beberapa hari yang lalu, teman saya yang tengah presentasi tersebut cerita ke saya kalau di rumah dia tidak punya pembantu, Segala urusan rumah tangga harus diselesaikan sendiri. Padahal, mengurus anak sambil bekerja bahkan sambil study bukan urusan main-main. Saya bisa bayangkan bagaimana repotnya. Saya saja yang notabene ada yang bantu-bantu di rumah masih merasa kerepotan. Rasanya waktu yang 24 jam tidak cukup untuk melakukan semua itu. Makanya sampai sekarang proposalku tidak kelar-kelar juga, he he. Bagaimana coba, punya suami juga super sibuk, malah jarang di rumah, kerjaannya terbang-terbang mlulu, so otomatis anak-anak lebih banyak dekat-dekat ke ibunya karena mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Jadi kalau udah di rumah rasanya nggak bisa ngapa-ngapain lagi karena anak-anak pengennya nempel terus. Maunya semuanya ibunya yang harus melakukan apa-apa untuk dia. Minta digendonglah, disuapinlah, diantar ke kamar kecil, dan lain-lain. Pokoknya apa-apa harus ibunya. Padahal, sebagai tenaga pengajar dan sebagai seorang mahasiswa, kita dituntut untuk terus memperdalam pengetahuan dan mengembangkan wawasan. Harus banyak-banyak baca, nulis, buka internet dan lain-lain. Tapi gimana coba mau nyisihkan waktu, terkadang udah nyalain laptop terus dimatiin lagi karena anaknya berantem atau ikutan pencet-pencet laptop, padahal tadinya ada ide menarik tapi trus blame gara-gara harus ngasi diam dulu anak-anak yang nangis . Belum lagi harus ngurus tetek benget urusan rumah tangga, arisan, jenguk keluarga yang sakit, hadiri undangan teman and sodara yang kawinan, aqiqahan, dll. Untuk istirahat aja susah banget. Bahkan kadang merasa sedih sendiri karena terkadang pas pulang rumah dan mau tiduran sebentar biasanya sambil diantar celoteh gemes anak-anak. Sedih banget melihat raut kecewa anak-anak yang masih pengen cerita banyak ama bundanya tapi si bunda sepertinya tidak kuat nahan lelah dan ngantuk. Kalau udah gitu anaknya pasti ngambek. Yah, apa boleh buat...
Seminarnya belum selesai tapi aku udah buru-buru keluar ruangan seminar karena jadwal kursus nyetir udah hampir masuk, sekitar 30 menit lagi. Sementara dalam perjalanan by angkot butuh waktu 30 menit untuk tiba di tempat kursus. Dulu waktu mau daftar kursus, suami sempat meragukan, tapi aku tetap ngotot. Aku yakin kalau usaha dan semangat pasti suatu saat bisa nyetir sendiri. Prinsip aku, tidak ada yang tidak bisa kalau kita yakin dan mau usaha untuk mewujudkan keyakinan kita, iyya khan? Prinsip itu yang selalu kucoba pertahankan setiap semangatku tiba-tiba kendor karena merasa betapa susahnya belajar nyetir di tengah kesemrawutan jalan -jalan kota makassar yang udah mulai diwarnai kemacetan. Namun setiap melihat mobil-mobil lain yang dikemudikan perempuan juga, malah ada yang udah berumur tapi terlihat tetap energik mengendalikan stir, semangatku akan bangkit lagi. Yang tua-tua aja bisa, masa aku yang masih muda gini nggak bisa, he he... kegeeran banget aku ini.
Selesai mengikuti kursus menyetir aku langsung pulang ke rumah by angkot. Maklum, belum lancar nyetir jadi belum berani bawa mobil sendiri, takut nabrak pete-pete seperti kasusnya suami beberapa waktu lalu atau masuk got seperti kasusnya tetanggaku yang juga perempuan. Suasananya udah bisa dibayangin, sesak, gerah, aroma nggak sedap, mana ada yang ngerokok, teleponan seenaknya, pokoknya so nggak nyaman gitu lah. Tapi jujur, selama ini ada juga sisi-sisi menarik melakukan perjalanan pake angkot. Dalam angkot kita bisa bertemu macam-macam orang dengan berbagai cerita dan karakter. Bahkan sebagai seorang pemerhati perempuan, banyak wajah-wajah perempuan yang dapat ditemui dengan cerita-cerita mereka serta kisah-kisah tentang perempuan yang terekam saat di angkot. Mulai masalah fashion terkini, baju, sepatu dan tas yang lagi ngetrend, alat-alat rumah tangga dari produk-produk mutakhir, dan lain-lain. Ada juga yang suaminya selingkuh, yang jadi simpanan, yang selalu ribut ama ipar or mertua, sikap egois suami sampai yang dapat KDRT. Ada juga persaingan antar ibu-ibu kompleks, juga repotnya nangani kenakalan anak-anak dan yang terbanyak adalah bagaimana susahnya bagi waktu untuk urus keluarga khususnya bagi perempuan yang bekerja. Kalau udah dengar kisah mereka, aku terkadang senyum-senyum sendiri, sebagai seorang perempuan, dalam hati aku memaklumi apa yang mereka ungkapkan.
Yah, memang teramat susah menjalankan figur seorang perempuan yang utuh sebagaimana harapan orang-orang di sekeliling kita. Sebagai seorang istri, kita dituntut untuk memahami dan mewujudkan keinginan-keinginan suami. Sebagai seorang suami, harus bisa mencurahkan waktu untuk memberikan perhatian-perhatian dan pendidikan yang baik bagi mereka, dan sebagai orang yang bekerja kita harus cerdas, kreatif dan inovatif melahirkan gagasan-gagasan untuk meningkatkan kierja dan kredibilitas instansi tempat kita bernaung. Ironisnya, suami terkadang tak memahami bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung seorang istri. dan bagaimana ribetnya aktivitas istri dari terbit fajar sampai terbenamnya mata suami dan anak-anak. Buktinya, seorang suami yang sukses meniti karier dan dianugerahi keluarga yang harmonis, orang akan mengacungkan jempol kepadanya. Ia akan menjadi figur yang merebut simpati dari berbagai kalangan dan terkadang dengan kebanggaannya sendiri ia mengakui bahwa betapa ia telah bersusah payah untuk merebut semua itu tanpa menyadari bagaimana peran istrinya juga tidak kecil di balik cerita kesuksesannya.
So, yang terpenting bagi perempuan adalah bagaimana kita bisa ikhlas menjalankan semua peran kita, agar apapun yang kita lakukan bisa berfaidah dan bernilai ibadah. Yakin, tidak ada upaya yang sia-sia. Apapun yang kita lakukan, selama itu adalah pekerjaan yang diridhai oleh Allah, maka pasti mendatangkan manfaat buat kita dan orang-orang yang kita cintai, kalau bukan sekarang, mungkin suatu saat di masa-masa yang akan datang. So, teruslah berjuang, berbuat yang terbaik untuk diri, keluarga dan lingkungan di manapun kita berada. *
Seminarnya belum selesai tapi aku udah buru-buru keluar ruangan seminar karena jadwal kursus nyetir udah hampir masuk, sekitar 30 menit lagi. Sementara dalam perjalanan by angkot butuh waktu 30 menit untuk tiba di tempat kursus. Dulu waktu mau daftar kursus, suami sempat meragukan, tapi aku tetap ngotot. Aku yakin kalau usaha dan semangat pasti suatu saat bisa nyetir sendiri. Prinsip aku, tidak ada yang tidak bisa kalau kita yakin dan mau usaha untuk mewujudkan keyakinan kita, iyya khan? Prinsip itu yang selalu kucoba pertahankan setiap semangatku tiba-tiba kendor karena merasa betapa susahnya belajar nyetir di tengah kesemrawutan jalan -jalan kota makassar yang udah mulai diwarnai kemacetan. Namun setiap melihat mobil-mobil lain yang dikemudikan perempuan juga, malah ada yang udah berumur tapi terlihat tetap energik mengendalikan stir, semangatku akan bangkit lagi. Yang tua-tua aja bisa, masa aku yang masih muda gini nggak bisa, he he... kegeeran banget aku ini.
Selesai mengikuti kursus menyetir aku langsung pulang ke rumah by angkot. Maklum, belum lancar nyetir jadi belum berani bawa mobil sendiri, takut nabrak pete-pete seperti kasusnya suami beberapa waktu lalu atau masuk got seperti kasusnya tetanggaku yang juga perempuan. Suasananya udah bisa dibayangin, sesak, gerah, aroma nggak sedap, mana ada yang ngerokok, teleponan seenaknya, pokoknya so nggak nyaman gitu lah. Tapi jujur, selama ini ada juga sisi-sisi menarik melakukan perjalanan pake angkot. Dalam angkot kita bisa bertemu macam-macam orang dengan berbagai cerita dan karakter. Bahkan sebagai seorang pemerhati perempuan, banyak wajah-wajah perempuan yang dapat ditemui dengan cerita-cerita mereka serta kisah-kisah tentang perempuan yang terekam saat di angkot. Mulai masalah fashion terkini, baju, sepatu dan tas yang lagi ngetrend, alat-alat rumah tangga dari produk-produk mutakhir, dan lain-lain. Ada juga yang suaminya selingkuh, yang jadi simpanan, yang selalu ribut ama ipar or mertua, sikap egois suami sampai yang dapat KDRT. Ada juga persaingan antar ibu-ibu kompleks, juga repotnya nangani kenakalan anak-anak dan yang terbanyak adalah bagaimana susahnya bagi waktu untuk urus keluarga khususnya bagi perempuan yang bekerja. Kalau udah dengar kisah mereka, aku terkadang senyum-senyum sendiri, sebagai seorang perempuan, dalam hati aku memaklumi apa yang mereka ungkapkan.
Yah, memang teramat susah menjalankan figur seorang perempuan yang utuh sebagaimana harapan orang-orang di sekeliling kita. Sebagai seorang istri, kita dituntut untuk memahami dan mewujudkan keinginan-keinginan suami. Sebagai seorang suami, harus bisa mencurahkan waktu untuk memberikan perhatian-perhatian dan pendidikan yang baik bagi mereka, dan sebagai orang yang bekerja kita harus cerdas, kreatif dan inovatif melahirkan gagasan-gagasan untuk meningkatkan kierja dan kredibilitas instansi tempat kita bernaung. Ironisnya, suami terkadang tak memahami bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung seorang istri. dan bagaimana ribetnya aktivitas istri dari terbit fajar sampai terbenamnya mata suami dan anak-anak. Buktinya, seorang suami yang sukses meniti karier dan dianugerahi keluarga yang harmonis, orang akan mengacungkan jempol kepadanya. Ia akan menjadi figur yang merebut simpati dari berbagai kalangan dan terkadang dengan kebanggaannya sendiri ia mengakui bahwa betapa ia telah bersusah payah untuk merebut semua itu tanpa menyadari bagaimana peran istrinya juga tidak kecil di balik cerita kesuksesannya.
So, yang terpenting bagi perempuan adalah bagaimana kita bisa ikhlas menjalankan semua peran kita, agar apapun yang kita lakukan bisa berfaidah dan bernilai ibadah. Yakin, tidak ada upaya yang sia-sia. Apapun yang kita lakukan, selama itu adalah pekerjaan yang diridhai oleh Allah, maka pasti mendatangkan manfaat buat kita dan orang-orang yang kita cintai, kalau bukan sekarang, mungkin suatu saat di masa-masa yang akan datang. So, teruslah berjuang, berbuat yang terbaik untuk diri, keluarga dan lingkungan di manapun kita berada. *
